Books Reviews, anykind of bookz review. . .
| DRAMA queen |
|

Bow, peons.

Group: Admin
Posts: 15.070
Member No.: 1
Joined: 30-December 03

|
Title: The Melancholy Death of Oyster Boy & Other Stories Author: Tim Burton Type: Poetry? More like a story book though.
Yes, you read right, the author of this book is the genius behind Batman, Mars Attacks!, and The Nightmare Before Christmas, among others.
Diliat sekilas, buku ini simpel banget. Formatnya kaya buku cerita anak-anak, satu halaman gambar dan satu halaman tulisan. Plus Burton mengadaptasi cara bercerita ala fairy tale; short, to the point, and they often rhyme.
Memang format bukunya kaya buku buat anak-anak, tapi cuma karena buku ini emang mengambil topik anak-anak, bukan karena buku ini diperuntukkan untuk anak-anak. Dan tolong jangan dihitung sudah berapa kali saya mengucapkan kata "anak-anak", saya pusing.
So, as I was saying, buku ini ngangkat anak-anak sebage topik utamanya--tepatnya, outcast. Burton bercerita tentang sekelompok anak-anak yang--in some way--terbuang dan ditolak, yang berusaha nyari tempat mereka di dunia ini.
Tapi ga cuma sampe di situ, Burton nyampein semua cerita itu dengan cara yang agak macabre, witty banget, permainan kata-kata, plus arti-arti tersembunyi. Dan biasanya semua itu ditemenin sama gambar yang ada di halaman di sampingnya. Burton's illustrations are often clean, tastefully messy, grotesque, and just a little cute. And they went well with the book.
And just for the heck of it, I'll give you a sample of the story from the book. Below is one of my favorites, Voodo Girl.
Her skin is white cloth, and she's all sewn apart and she has many colored pins sticking out of her heart.
She has a beautiful set of hypno-disk eyes, the ones that she uses to hypnotize guys.
she has many different zombies who are deeply in her trance. She even has a zombie who was originally from France.
But she knows she has a curse on her, a curse she cannot win. for if someone gets too close to her,
the pins stick farther in.
|
|
|
| Bomon |
|

Lobak Platinum

Group: RSF
Posts: 1.639
Member No.: 28
Joined: 21-November 04

|
oh ijah.. gw jg pernah baca buku The Melancholy Death of Oyster Boy & Other Stories.. and it is quite interesting, indeed.. kaloow.. penasaran dan kepengen baca.. e-book (.PDF) nya bsa di download disini : http://www.badongo.com/file/7715181Enjoyz ^^ This post has been edited by Bomon on Feb 10 2008, 08:18 AM
|
|
|
| DRAMA queen |
|

Bow, peons.

Group: Admin
Posts: 15.070
Member No.: 1
Joined: 30-December 03

|
Title: A Thousand Splendid Suns Author: Khaled Hosseini Type: Novel
Mariam baru berumur 15 tahun sewaktu dia dikirim ke Kabul untuk dinikahkan kepada Rasheed. Hampir 20 tahun kemudian, sebuah persahabatan tumbuh antara Mariam dan seorang remaja, Laila, dengan ikatan sekuat seorang ibu dengan anaknya. Sewaktu Taliban mengambil alih, hidup menjadi perjuangan melawan kelaparan, kebrutalan, dan ketakutan. Tetapi cinta mampu menggerakkan seseorang untuk bertindak dengan cara yang tidak disangka, dan membawa mereka melewati halangan yang paling menakutkan dengan keberanian yang luar biasa. [Dikutip dari sipnosis di belakang buku "A Thousand Splendid Suns" edisi paperback, dengan terjemahan kilat ala Seyren]
I love modern classics. Especially the ones that play with your feelings, and I'd like to think I had read quite a few of them; such as the acclaimed Memoirs of a Geisha and Perfume. But 402 pages, 3 days, and a book later, I'm reduced to nothing.
A Thousand Splendid Suns is a powerful, gripping tale, and nothing like what I've read before. Everytime I finished a chapter, I found myself closing the book for a bit to catch my breath, dizzy with emotion and stuffed with something I couldn't describe. Words are powerful little things, and the ones in this book batter and soothe.
Novel ini ngambil setting di Afghanistan, dengan tempatnya yang eksotis, peraturan-peraturannya yang mengikat, dan keadaannya yang ga menentu karena perang. Di tempat ini juga, Hosseini membawa Mariam dan Laila—dua orang wanita yang lahir dengan perbedaan umur 1 generasi dan dengan ide yang begitu berbeda tentang cinta dan keluarga—menjadi satu melalui perang, pengorbanan, dan takdir. Sambil menghadapi bahaya di sekitar mereka, baik di dalam rumah maupun di jalanan Kabul, mereka menjalin sebuah ikatan yang ga konvensional tapi believable, begitu kuatnya sampe nyaingin apa yang dimiliki seorang ibu dengan anaknya, yang pada akhirnya ga hanya mempengaruhi hidup mereka sendiri tapi juga untuk orang-orang di sekitar mereka. Cerita ini menunjukkan dalam bentuk yang paling dasar kalo cinta seorang wanita pada keluarganya mampu menggerakkan dia untuk mengambil tindakan yang mengejutkan dan melakukan pengorbanan yang heroik, dan pada akhirnya, mungkin cinta seperti itulah kunci menuju keselamatan. Hampir ga mungkin nge-review titik-titik paling kuat dari cerita ini tanpa ngebocorin plotnya, tapi yang pasti A Thousand Splendid Suns adalah sebuah cerita yang luar biasa tentang suatu zaman yang keras, sebuah persahabatan yang unlikely, dan sebuah cinta yang tak bisa dihancurkan.
Hosseini is a born writer, that much is clear. Cara Hosseini melukis dengan kata-kata itu konsisten, dari bentuk fisik seseorang, lingkungan, sampe perasaan—dia tau di mana dia musti deskripsiin sesuatu lebih jauh dan di mana dia harus berenti dan ngebiarin imajinasi pembacanya yang kerja. Dan hasilnya? A very beautiful imaginary. Cara Hosseini melakukan characterization juga outstanding, kedua karakter utama itu dibentuk dengan begitu detail dan ga 2 dimensi; perasaan, pikiran, dan mimpi mereka dipaparkan dengan jelas tanpa bertele-tele, dan membuat gw "kenal" dan bisa bersimpati ama mereka. Tapi yang lebih luar biasa dari itu adalah cara Hosseini mendongeng, cara dia menggunakan kata-kata untuk membentuk serangkaian kalimat yang bisa menghujam hati dan membuat jari-jari tangan gw dingin. And when I finally put this book to a close, I was feeling a little sad, a little happy, and a lot wistful.
Tapi bukan berarti buku ini ga punya kelemahannya. Satu hal yang paling gw sesalin dari buku ini itu ga laen dan ga bukan adalah awalnya yang lambat. Memang, gw dah terpikat (akah, terpikat) dari chapter pertama, tapi tetep aja.. lambat.. gitu. (AKAH) Trus juga ada karakter-karakter yang punya peran lumayan prominen dalam ceritanya tapi masih agak 2 dimensi, dan kalo ditaro di samping Mariam dan Laila, they paled in comparison. But they can be easily overlooked, kelebihan buku ini jauh lebih banyak daripada kekurangannya.
A very beautiful book, recommended for everyone who loves a good and moving story.
|
|
|
Track this topic
Receive email notification when a reply has been made to this topic and you are not active on the board.
Subscribe to this forum
Receive email notification when a new topic is posted in this forum and you are not active on the board.
Download / Print this Topic
Download this topic in different formats or view a printer friendly version.
|